KENAPA RUBBERWOOD

Kayu karet telah ditanam secara luas di Indonesia selama lebih dari seratus tahun..

KENAPA RUBBERWOOD

Kayu karet, juga dikenal sebagai kayu Para atau Hevea brasiliensis. Kayu karet telah ditanam secara luas di Indonesia selama lebih dari seratus tahun baik oleh perkebunan besar dan kecil yang tersebar di Sumatera, Jawa dan Pulau Kalimantan..

Setelah 25 sampai 30 tahun usia produksi lateks menjadi tidak ekonomis dan harus dilakukan penanaman pohon-pohon tersebut kembali. Sebelumnya pohon-pohon yang dipanen adalah pohon yang meiliki nilai komersial rendah dan terutama digunakan sebagai kayu bakar, tapi sejak pertengahan 1980-an kayu karet menjadi salah satu kayu yang paling populer untuk membuat furnitur dan produk berbasis kayu lainnya. Penanaman pohon Albizia falcata menjadi populer di tahun 70-an terutama di Pulau Jawa. .

Kayu karet umumnya adalah tanaman homogen dengan warna yang terang dengan serat lurus. Warna terang kayu karet adalah salah satu alasan utama untuk popularitasnya. Kepadatan udara dan kekeringannya adalah antara 560-650 kg / M3. Kayu karet memiliki kualitas kayu yang baik secara keseluruhan untuk proses penggergajian, boring, turning, pemakuan dan perekatan. dengan hasil akhir yang baik. Kekuatan dan sifat mekanik yang sebanding dengan kayu tradisional yang digunakan untuk pembuatan mebel dan produk perkayuan lainnya.



Kualitas yang baik dan warna yang baik memungkinkan kayu karet dapat digunakan sebagai alternatif pengganti untuk Ramin ( Gonystylus bancanus ). Warna terang juga memungkinkan untuk diwarnai sesuai dengan keinginan konsumen dengan aplikasi warna yang berbeda dari warna kayu.

su keberlanjutan produk kayu selalu menjadi topik hangat. Pembahasan utamanya adalah bisnis kayu yang dapat merusak alam. Hutan dianggap sebagai penyimpanan karbon penting yang langsung berpengaruh kepada pemanasan global.
PT Aria Adiguna Abadi menyadari masalah ini dan telah menggeser fokusnya ke perkebunan kayu untuk sumber bahan baku. Indonesia beruntung memiliki perkebunan karet terbesar di dunia yang bisa menjadi alternatif sumber bahan baku.

Dengan 3,3 juta hektare di tahun 2005, perkebunan plasma terdiri 85 % dari perkebunan karet alam di negeri ini yang menyediakan mata pencaharian bagi 15 juta orang Indonesia. Sekitar 91 % dari perkebunan plasma telah dibangun oleh para petani kecil sendiri dan sisanya atau sekitar 288.039 hektar telah dibangun oleh perusahaan perkebunan dalam skema kemitraan.

Lokasi Perkebunan Karet

Sumatera memiliki perkebunan karet terbesar di negara ini. Perkebunan di Sumatera yang terletak di Sumatera Selatan memiliki 638.000 hektar pada tahun 2005 serta di lokasi lainnya yaitu di Sumatera Utara , Riau dan Jambi .
Provinsi lain yang memiliki perkebunan karet cukup besar adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Berbeda dari Sumatera dan Kalimantan , perkebunan karet di Jawa didominasi oleh BUMN dan perusahaan swasta. Sementara itu kebun plasma yang dominan ada di Sumatera dan Kalimantan.

Ketika harga karet jatuh pada tahun 1994-2003 , produksi karet di negara turun. Produksi mulai naik kembali ketika harga naik pada tahun 2004. Produksi meningkat dari 1,79 juta ton pada 2003 ke 2,06 juta ton tahun 2004 dan menjadi 2,13 juta ton pada tahun 2005.
Kenaikan tertinggi tercatat dilakukan oleh petani kecil ketika harga mulai naik. Produksi perkebunan yang dimiliki oleh perusahaan negara dan swasta tidak banyak berubah karena mereka sudah mencapai produktivitas tertinggi. Produksi mereka tidak akan berubah kecuali ada ekspansi di wilayah perkebunan.

Harga minyak yang terlalu tinggi memiliki efek positif pada pemeliharaan kebun karet dan penanaman pohon kembali.
Penanaman kembali menghasilkan banyak limbah yang menjadi sumber bahan kami, bahan yang kami anggap dapat berkelanjutan.
Perkebunan karet telah menjadi budaya lama di banyak tempat di Indonesia yang dapat memastikan prospek jangka panjang.
Penurunan produksi kayu hutan alam menaikkan harga kayu dan mendorong permintaan untuk jenis tanaman selain karet. Tujuan untuk menanam pohon telah tumbuh secara eksponensial sebagai hasilnya.

Pohon Indonesia yang telah ditanam secara luas adalah Sengon ( Albizia falcata ) yang populer terutama di Jawa, Acacia mangium yang sebagian besar ditanam oleh perusahaan perkebunan kayu,
Mahoni ( Swietenia mahogany ) sebagian besar ditanam oleh petani skala kecil, dan Jabon ( Antocephalus cadamba ).
Penanaman pohon adalah bisnis yang baik maka tidak perlu khawatir tentang menipisnya hutan alam. Kita perlu memberikan kesempatan lebih untuk produk kayu perkebunan.